Ada kala dimana dia atau mereka muak liat lu nangis. You are too weak!
Ada kala lu harus sadar bahwa ada banyak Hal yg butuh lu telen meski pahit. You should. It the only one way!
Kadang lu harus sadar bahwa ada banyak hal dan faktor yang membuat lu ngga pantas atas banyak hal. Because not you or anyone else can decide. God is the only one judge's.
Bukan prihal kalimat di atas, gw bilang ngga ada bahagia. Our happiness is as simple as when you can accept the things that you never expected.
Bukan prihal itu pula gw bilang bahwa kita orang bisa nyerah. Because there is a person who fight their pain just because they don't want to give up on you.
Dengan ini pahit dan manis nya jelas. No matter it will goes you know what it's right. Love never done!
Sunday, December 8, 2019
Thursday, April 4, 2019
?
Terkadang menunggu itu perlu. Memberikan waktu untuk sekiranya duduk sejenak. Bukan tentang beristirahat, karena menunggu tidak membuat otak berhenti bekerja dalam berpikir. Sekedar untuk ingat, tubuh masih butuh diingatkan bahwa udara butuh diserap.
Ada yang terasa, sedikit dingin namun tidak nyata. Tanpa rupa namun ada. Tubuh layaknya kulit tak berjiwa. Memucat kering tanpa rona. Kala itu rupanya ingin menyeimbangkan butuh. Karena bernapas karena ingin hidup berbeda dengan bernapas karena masih hidup.
Ada yang terasa, sedikit dingin namun tidak nyata. Tanpa rupa namun ada. Tubuh layaknya kulit tak berjiwa. Memucat kering tanpa rona. Kala itu rupanya ingin menyeimbangkan butuh. Karena bernapas karena ingin hidup berbeda dengan bernapas karena masih hidup.
Sunday, October 8, 2017
'Manusiawi'
Banyak kata namun seketika lupa bagaimana menyusunnya dengan benar. Ada rasa namun lupa bagaimana menunjukkannya dengan wajar.
Kali ini tentang 'Tahu namun seakan tidak tahu!'.
Tahu akan kata yang diucapkan saja susah, kemudian dialihkan dengan kebodohan yang membuat seakan akan tidak tahu akan kata tersebut, ketika mengerti menjadi hal yang sampah dan kemudian berperilaku seakan tidak mengerti. Menutup diri dengan sebuah gerigi besi hanya karena takut melangkah lebih jauh lagi.
Lalu pernah merasa kuat, merasa paling berani, merasa tidak punya hati, merasa mati sampai akhirnya tahu bahwa ternyata ada yang lebih kuat, ada yang lebih berani, ada yang lebih tidak punya hati bahkan tanpa merasa mati.
Tanpa subjek atau pun objek. Kadang pertanyaan tentang kenyataan selalu menjebak. Otak yang biasanya berfungsi, dalam seketika hilang kendali. Rahasia pada takdir itu unik, meski kadang telah diketahui alurnya, namun prasangka dalam sisi positif mengubah arah pandang tentang takdir yang dipercayai tetap bisa diperbaiki, semacam dimensi.
Lalu mau apa lagi ketika kendali tidak ingin menjadi kendali?
Ini kah tragedi kehidupan?
Menjadi bodoh untuk tidak mengetahui apa yang memang telah diketahui?
Takdir yang dilunakkan pada dinginnya kenyataan?
Bodoh bukan?
Lalu bagaimana jika menjadi bodoh dapat menguatkan?
Ketika segala fungsi dalam kontrol tidak pernah dianggap ada. Ketika bebas itu fana. Kemudian disebut apa tragedi seperti ini?
#mungkinmanusiawi
Kali ini tentang 'Tahu namun seakan tidak tahu!'.
Tahu akan kata yang diucapkan saja susah, kemudian dialihkan dengan kebodohan yang membuat seakan akan tidak tahu akan kata tersebut, ketika mengerti menjadi hal yang sampah dan kemudian berperilaku seakan tidak mengerti. Menutup diri dengan sebuah gerigi besi hanya karena takut melangkah lebih jauh lagi.
Lalu pernah merasa kuat, merasa paling berani, merasa tidak punya hati, merasa mati sampai akhirnya tahu bahwa ternyata ada yang lebih kuat, ada yang lebih berani, ada yang lebih tidak punya hati bahkan tanpa merasa mati.
Tanpa subjek atau pun objek. Kadang pertanyaan tentang kenyataan selalu menjebak. Otak yang biasanya berfungsi, dalam seketika hilang kendali. Rahasia pada takdir itu unik, meski kadang telah diketahui alurnya, namun prasangka dalam sisi positif mengubah arah pandang tentang takdir yang dipercayai tetap bisa diperbaiki, semacam dimensi.
Lalu mau apa lagi ketika kendali tidak ingin menjadi kendali?
Ini kah tragedi kehidupan?
Menjadi bodoh untuk tidak mengetahui apa yang memang telah diketahui?
Takdir yang dilunakkan pada dinginnya kenyataan?
Bodoh bukan?
Lalu bagaimana jika menjadi bodoh dapat menguatkan?
Ketika segala fungsi dalam kontrol tidak pernah dianggap ada. Ketika bebas itu fana. Kemudian disebut apa tragedi seperti ini?
#mungkinmanusiawi
Saturday, July 1, 2017
Masa
Ini tentang masa, tentang waktu, tentang apa yang dialami ketika hidup. Ketika mudah itu adalah kata, ketika mudah itu bukan tentang spontan. Disaat semua itu penuh perhitungan. Adalah hidup yang butuh pantauan.
Ada masa dimana kita meninggalkan yang tidak ingin ditinggalkan. Meninggalkan yang menginginkan perpisahan. Ditinggalkan oleh sosok yang kita butuhkan. Ditinggalkan oleh sosok yang tidak kita inginkan. Adalah perpisahan.
Ada masa dimana yang meninggalkan mungkin saja kembali. Ada masa yang ditinggalkan mungkin saja menunggu. Ada masa yang meninggalkan tidak pernah kembali. Ada masa yang menunggu tidak lagi menunggu. Atau ketika semua kembali, yang meninggalkan akan ditinggalkan oleh yang menunggu, karena waktu. Adalah keputusan.
Ada masa kepentingan tidak lagi diutamakan. Ada masa kebutuhan tidak lagi dijadikan keharusan. Adalah perubahan.
Ketika lelah tidak selalu tentang berhenti lalu memulai lagi. Ketika istirahat tidak selalu tentang jeda untuk kembali berlari. Ketika rindu tidak selalu untuk menanti. Ketika mengenang tidak selalu menginginkan masa lalu kembali. Adalah melepaskan.
Masa, adalah 'tentang' dan 'ketika' kita belum mati. Ketika kita disini. Adalah hidup dalam dimensi.
#persepsi
Ada masa dimana kita meninggalkan yang tidak ingin ditinggalkan. Meninggalkan yang menginginkan perpisahan. Ditinggalkan oleh sosok yang kita butuhkan. Ditinggalkan oleh sosok yang tidak kita inginkan. Adalah perpisahan.
Ada masa dimana yang meninggalkan mungkin saja kembali. Ada masa yang ditinggalkan mungkin saja menunggu. Ada masa yang meninggalkan tidak pernah kembali. Ada masa yang menunggu tidak lagi menunggu. Atau ketika semua kembali, yang meninggalkan akan ditinggalkan oleh yang menunggu, karena waktu. Adalah keputusan.
Ada masa kepentingan tidak lagi diutamakan. Ada masa kebutuhan tidak lagi dijadikan keharusan. Adalah perubahan.
Ketika lelah tidak selalu tentang berhenti lalu memulai lagi. Ketika istirahat tidak selalu tentang jeda untuk kembali berlari. Ketika rindu tidak selalu untuk menanti. Ketika mengenang tidak selalu menginginkan masa lalu kembali. Adalah melepaskan.
Masa, adalah 'tentang' dan 'ketika' kita belum mati. Ketika kita disini. Adalah hidup dalam dimensi.
#persepsi
Friday, February 19, 2016
(HOME) PROLOGUE
He
always got up in the morning and walk me up to the café. We usually do
breakfast, together. I walk with him to the café
this morning
at 07:28. It’s spring now, but I still
freezing. I staring blankly when we walk. I felt claustropibic, not because cold. I still can feel the air in my lungs. I just … think and It's complicated. I stop and he kept walking for a
second before notice and stop, too.
“I want to tell the
truth.” I said.
“You okay?”
“Yes … umm no, I just need to talk to you about
something.”
“Okay … so, just talk. But can you talk when we walked? Because I need more power you know.” He said and patting his stomach, hungry.
“Yeah, course.” I said. He
walk, and I follow him “It’s about home.”
“What’s that mean? Home
here or your truly home in Jakarta?”
“Jakarta … I guess.” I
said
He not answer because we just arrive at the café. And he take a sit on the table number 8, I follow. The
waitress come and give us the menu. He order a Pancake Berry and Latte. I
order Croissant and Tea. Then when the waitress leave, he staring at me and
say, “So, what’s the matter?”
“I’m not going back to
Jakarta.”
He
not answer. Carefully thinking my word, I guess. We both silent. And then he talk after a second. “Why? You’re have a problem with your parents or what?”
“Nothing.
I’ve just not going back.”
Sunday, February 17, 2013
Summer and Komet
Aku mengerjapkan mataku, lalu kulihat keluar jendela. Tampak matahari telah bersinar begitu terangnya. Pepohonan rindang dengan dedaunan yang begitu hijau kian menghiasi pandanganku. Namun ada sesuatu yang berbeda! Apa itu, aku tidak pernah melihatnya. Itu... peri pohon?
Menyadari tentang sesuatu yang sedang kulihat, membuatku segera berlari keluar dari rumah dan menghampirinya. Masih ada. Oh, indah sekali. Aku tidak mampu berpaling darinya. Dia kecil, namun keindahannya begitu luar biasa. Dia menoleh ketika sadar akan kedatanganku. Oh tidak, dia menatapku, iya peri itu menatapku. Aku terpaku & kemudian tenggelam dalam keindahannya. Dia tersenyum, seketika aku merasa jantungku berhenti berdetak. Tuhan, kurasa kau memberkatiku hari ini, sangat amat memberkatiku karena mempertemukanku dengan peri pohon yang sekarang sedang menatap lembut diriku.
Peri itu perlahan mendekat ke arahku. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu. Dan benar, dia mengatakan sesuatu.
"Kau... kau melihatku?" tanyanya padaku.
"Ya." jawabku ragu.
Seketika peri pohon itu tersenyum sekali lagi padaku. Dan kali ini senyuman itu tampak lebih indah. Aku rasa aku gila.
"Aku senang kau dapat melihatku." katanya.
"Kenapa?"
"Karena tidak seorang pun yang mampu melihatku. Kebanyakan orang hanya menganggapku sebuah bagian dari dalam kotak imajinasi manusia yang tidaklah nyata." jelasnya.
Aku terdiam mendengarnya.Seberuntung itu kah diriku hingga dapat melihatnya, melihat peri pohon ini. Ya, dia kecil. Tapi entahlah, sekecil apa pun ia, rasanya peri pohon ini begitu mudah kulihat. Bahkan dari kejauhan sekalipun. "Aku pun senang dapat melihatmu." jawabku setelah itu.
Jeda. Tidak ada suara. Aku merasa salah tingkah ketika ia memerhatikanku. Ia menatapku, tapi tatapan itu, tatapan itu bukan sebuah tatapan yang mengganggu. Tapi tatapan itu, tatapan yang... yang menenangkan.
"Kau, siapa namamu?" tanyanya.
Aku sempat terkaget dan semakin merasa aneh atau mungkin 'gugup'. Aku segera mengambil kembali pikiranku yang tadi sempat terbang entah kemana. "Namaku Komet." jawabku dengan suara yang kuusahakan agar terdengar sedatar mungkin. "Kalau kau, apa kau mempunyai nama? Maksudku kau juga pasti memiliki nama bukan. Siapa namamu?"
"Komet! Nama yang bagus." ia memiringkan sedikit kepalanya sambil tersenyum menatapku, "Namaku, Hydrangea Macrophylla." jawabnya ramah.
"Nama yang indah. Tapi kurasa terlalu sulit." jeda sejenak & aku pun berpikir, "Bagaimana jika aku memanggilmu, Summer?"
"Summer?"
"Ya, namamu Hydrangea Macrophylla. Merupakan salah satu jenis bunga yang tumbuh sejak awal musim semi sampai akhir musim gugur bukan? Jadi kurasa 'Summer' cocok untukmu." jelasku.
Ia sempat terdiam sejenak & kemudian sinar matanya berubah, "Aku menyukainya." katanya dengan gembira.
"Baiklah Summer, senang mengenalmu."
"Begitu pun denganku Komet. Kita berteman?" tanyanya.
"Ya, jika kau mau."
"Tentu. Aku senang kau bersedia berteman denganku."
Aku hanya tersenyum Aku menarik nafas, & rasanya, entahlah. Tapi, ada sesuatu yang membuatku merasa,,, senang.
"Hi Komet."
"Ya, Summer?"
Jeda sejenak. Summer menatapku, senyuman itu lagi-lagi muncul. Jantungku seketika kembali kehilangan kendali. Berhentikah? Ah, sudahlah, biarkan saja.
"Komet... aku suka matamu. Matamu indah, mungkin itu sebabnya orang tuamu memberikan nama itu untukmu." ucapnya.
Dan aku seperti kehilangan suaraku . Kehilangan detak jantungku. Tapi aku masih mampu merasakan, merasakan angin yang bertiup membelai helai demi helai rambutku, membelai halus wajah & tubuhku. Aku masih bisa mendengar, mendengar suara dedaunan hijau yang menari-nari ketika tertiup lembut oleh hembusan angin. Dan aku masih dapat melihat, melihatnya, bahkan mematung menatapnya yang saat ini sedang tersenyum padaku. Aku benar-benar tidak dapat mengalihkan pandanganku untuk berpaling darinya. Summer.
Menyadari tentang sesuatu yang sedang kulihat, membuatku segera berlari keluar dari rumah dan menghampirinya. Masih ada. Oh, indah sekali. Aku tidak mampu berpaling darinya. Dia kecil, namun keindahannya begitu luar biasa. Dia menoleh ketika sadar akan kedatanganku. Oh tidak, dia menatapku, iya peri itu menatapku. Aku terpaku & kemudian tenggelam dalam keindahannya. Dia tersenyum, seketika aku merasa jantungku berhenti berdetak. Tuhan, kurasa kau memberkatiku hari ini, sangat amat memberkatiku karena mempertemukanku dengan peri pohon yang sekarang sedang menatap lembut diriku.
Peri itu perlahan mendekat ke arahku. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu. Dan benar, dia mengatakan sesuatu.
"Kau... kau melihatku?" tanyanya padaku.
"Ya." jawabku ragu.
Seketika peri pohon itu tersenyum sekali lagi padaku. Dan kali ini senyuman itu tampak lebih indah. Aku rasa aku gila.
"Aku senang kau dapat melihatku." katanya.
"Kenapa?"
"Karena tidak seorang pun yang mampu melihatku. Kebanyakan orang hanya menganggapku sebuah bagian dari dalam kotak imajinasi manusia yang tidaklah nyata." jelasnya.
Aku terdiam mendengarnya.Seberuntung itu kah diriku hingga dapat melihatnya, melihat peri pohon ini. Ya, dia kecil. Tapi entahlah, sekecil apa pun ia, rasanya peri pohon ini begitu mudah kulihat. Bahkan dari kejauhan sekalipun. "Aku pun senang dapat melihatmu." jawabku setelah itu.
Jeda. Tidak ada suara. Aku merasa salah tingkah ketika ia memerhatikanku. Ia menatapku, tapi tatapan itu, tatapan itu bukan sebuah tatapan yang mengganggu. Tapi tatapan itu, tatapan yang... yang menenangkan.
"Kau, siapa namamu?" tanyanya.
Aku sempat terkaget dan semakin merasa aneh atau mungkin 'gugup'. Aku segera mengambil kembali pikiranku yang tadi sempat terbang entah kemana. "Namaku Komet." jawabku dengan suara yang kuusahakan agar terdengar sedatar mungkin. "Kalau kau, apa kau mempunyai nama? Maksudku kau juga pasti memiliki nama bukan. Siapa namamu?"
"Komet! Nama yang bagus." ia memiringkan sedikit kepalanya sambil tersenyum menatapku, "Namaku, Hydrangea Macrophylla." jawabnya ramah.
"Nama yang indah. Tapi kurasa terlalu sulit." jeda sejenak & aku pun berpikir, "Bagaimana jika aku memanggilmu, Summer?"
![]() |
| Part of the novel 'A pair of wings for the Future.' |
"Ya, namamu Hydrangea Macrophylla. Merupakan salah satu jenis bunga yang tumbuh sejak awal musim semi sampai akhir musim gugur bukan? Jadi kurasa 'Summer' cocok untukmu." jelasku.
Ia sempat terdiam sejenak & kemudian sinar matanya berubah, "Aku menyukainya." katanya dengan gembira.
"Baiklah Summer, senang mengenalmu."
"Begitu pun denganku Komet. Kita berteman?" tanyanya.
"Ya, jika kau mau."
"Tentu. Aku senang kau bersedia berteman denganku."
Aku hanya tersenyum Aku menarik nafas, & rasanya, entahlah. Tapi, ada sesuatu yang membuatku merasa,,, senang.
"Hi Komet."
"Ya, Summer?"
Jeda sejenak. Summer menatapku, senyuman itu lagi-lagi muncul. Jantungku seketika kembali kehilangan kendali. Berhentikah? Ah, sudahlah, biarkan saja.
"Komet... aku suka matamu. Matamu indah, mungkin itu sebabnya orang tuamu memberikan nama itu untukmu." ucapnya.
Dan aku seperti kehilangan suaraku . Kehilangan detak jantungku. Tapi aku masih mampu merasakan, merasakan angin yang bertiup membelai helai demi helai rambutku, membelai halus wajah & tubuhku. Aku masih bisa mendengar, mendengar suara dedaunan hijau yang menari-nari ketika tertiup lembut oleh hembusan angin. Dan aku masih dapat melihat, melihatnya, bahkan mematung menatapnya yang saat ini sedang tersenyum padaku. Aku benar-benar tidak dapat mengalihkan pandanganku untuk berpaling darinya. Summer.
To be continue ...
Tuesday, September 4, 2012
Believe
Ketika kau mulai bisa berjalan, Tuhan memberikan beberapa jalan setapak untuk kau lalui. Dan saat kau telah memilih maka kehidupan pun dimulai!
Dimulai dari hal itu dan setelahnya tergantung bagaimana dirimu menjalaninya. Seiring kaki melangkah dan waktu yang terus berputar, munculah sebuah impian. Impian yang indah, begitu indah jika dapat digapai. Tapi siapa yang tahu tentang apa yang akan terjadi setelah ini!
Ketika kau mulai berusaha meneruskan perjalanan yang kini telah mendapat tujuannya yaitu sebuah Impian. Kemudian yang ada dalam benakmu adalah Impian itu Berharga. Namun saat kau terjatuh, sakit, kau sendiri dan kau merasa tidak ada seorang pun yang membantumu terbangun, kau tetap berusaha kembali berdiri dan meneruskan perjalanan walau dengan langkah yang terpincang-pincang.
Semakin jauh kau melangkah, semakin banyak halang rintang yang akan menghadang, sungguh semua karena Tuhan ingin menjadikan impianmu lebih dari berharga. Namun jika kau telah terjatuh kesekian kalinya hingga kau nyaris lumpuh! Bagaimana lagi kau bisa meneruskan perjalananmu?
Manusia hidup memang untuk dirinya sendiri. Namun tidak selalu akan mampu berjalan sendiri, yang kau butuhkan adalah sebuah teriakan penyemangat, ketika kau hampir lumpuh , sungguh suara penyemangat itu adalah muhjizat. Setidaknya walau kau tau kau berjalan dan berusaha sendiri, namun kau harus menyadari bahwa di depan sana akan ada banyak orang yang menunggu untuk memeluk bahagia dirimu, memberikan selamat kepadamu, bersorak-sorai atas segala kesuksesanmu. Dan karena itulah kau harus percaya walau banyak yang memandangmu cacat, ingatlah bahwa kau lebih dari berharga untuk mereka yang selalu setia mendukungmu, mereka yang selalu tersenyum karena percaya bahwa kau mampu, kau mampu meraih suksesmu.
Berusahalah atas nama sebuah mimpi, sebuah dukungan dan yang terpenting berusahalah atas dirimu yang telah mendapatkan begitu banyak kesempatan yang Tuhan beri.Satu kata yang pasti harus selalu kau ingat adalah PERCAYA.
"Hidup bukan ketika kau merasa tampak sempurna dan memiliki segalanya! Itu salah. Tapi hidup adalah ketika kau terjatuh berulangkali tapi kau tak peduli, kau berusaha dan tetap bahagia karena kau percaya ke-BAHAGIA-anmu adalah impian yang pasti mampu kau raih dan ke-SEMPURNA-anmu ada karena mereka percaya kau mampu."
Dimulai dari hal itu dan setelahnya tergantung bagaimana dirimu menjalaninya. Seiring kaki melangkah dan waktu yang terus berputar, munculah sebuah impian. Impian yang indah, begitu indah jika dapat digapai. Tapi siapa yang tahu tentang apa yang akan terjadi setelah ini!
Ketika kau mulai berusaha meneruskan perjalanan yang kini telah mendapat tujuannya yaitu sebuah Impian. Kemudian yang ada dalam benakmu adalah Impian itu Berharga. Namun saat kau terjatuh, sakit, kau sendiri dan kau merasa tidak ada seorang pun yang membantumu terbangun, kau tetap berusaha kembali berdiri dan meneruskan perjalanan walau dengan langkah yang terpincang-pincang.
Semakin jauh kau melangkah, semakin banyak halang rintang yang akan menghadang, sungguh semua karena Tuhan ingin menjadikan impianmu lebih dari berharga. Namun jika kau telah terjatuh kesekian kalinya hingga kau nyaris lumpuh! Bagaimana lagi kau bisa meneruskan perjalananmu?
Manusia hidup memang untuk dirinya sendiri. Namun tidak selalu akan mampu berjalan sendiri, yang kau butuhkan adalah sebuah teriakan penyemangat, ketika kau hampir lumpuh , sungguh suara penyemangat itu adalah muhjizat. Setidaknya walau kau tau kau berjalan dan berusaha sendiri, namun kau harus menyadari bahwa di depan sana akan ada banyak orang yang menunggu untuk memeluk bahagia dirimu, memberikan selamat kepadamu, bersorak-sorai atas segala kesuksesanmu. Dan karena itulah kau harus percaya walau banyak yang memandangmu cacat, ingatlah bahwa kau lebih dari berharga untuk mereka yang selalu setia mendukungmu, mereka yang selalu tersenyum karena percaya bahwa kau mampu, kau mampu meraih suksesmu.
Berusahalah atas nama sebuah mimpi, sebuah dukungan dan yang terpenting berusahalah atas dirimu yang telah mendapatkan begitu banyak kesempatan yang Tuhan beri.Satu kata yang pasti harus selalu kau ingat adalah PERCAYA."Hidup bukan ketika kau merasa tampak sempurna dan memiliki segalanya! Itu salah. Tapi hidup adalah ketika kau terjatuh berulangkali tapi kau tak peduli, kau berusaha dan tetap bahagia karena kau percaya ke-BAHAGIA-anmu adalah impian yang pasti mampu kau raih dan ke-SEMPURNA-anmu ada karena mereka percaya kau mampu."
Subscribe to:
Posts (Atom)
